Gaya Hidup Memberi

Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Kisah Rasul 11:29

 

Dua pertanyaan yang harus kita renungkan sebagai anak Tuhan tentang memberi yaitu: pertama, kita sering menyuarakan atau menyampaikan tentang memberi tetapi apakah kita melakukannya? Kedua, apakah kita juga menjadi anak Tuhan yang murah hati, yang tidak selalu berharap menerima tapi justru punya kerinduan untuk memberi? Tetapi sekali lagi, bukan soal nominal, tetapi soal kerelaan hati. Memberi adalah karakter warga negara Surga, sebaliknya mereka yang pelit atau kikir tidak mendapat apa di Kerajaan Elohim (1 Kor. 6:10).

Berbicara soal memberi, Marthin Luther pernah berkata, “Bertobat itu berarti membuka hati, kemudian membuka dompet.” Jangan sampai hanya hati kita saja yang terbuka tapi dompet kita masih tertutup rapat. Oswald Smith juga berkata, “Orang dewasa suka memberi, anak-anak suka menerima.” Salah satu bukti bahwa kekristenan kita sudah dewasa adalah jika kita memiliki kebiasaan untuk memberi. Sebaliknya, jika kita selalu mengenggam erat apa yang ada pada kita, itu ciri-ciri bahwa kerohanian kita masih kanak-kanak. Oral Roberts berkata lebih keras, “Jangan doakan orang yang tidak pernah memberi, karena nol dikalikan berapa pun tetap nol.” Tahukah anda yang paling susah menerima berkat Tuhan? Orang yang terlalu pelit untuk memberi!

Kadangkala kita memakai banyak alasan seperti berikut ini supaya kita tidak memberi. “Saya sendiri masih butuh ini dan itu.” Ingatlah bahwa yang namanya kebutuhan itu tidak pernah habisnya. “Saya belum jadi anak Tuhan yang kaya.” Memberi bukan soal nominal, tapi soal hati. Mengapa harus menunggu berhasil dulu untuk memberi? “Jangan-jangan nanti dia jadi pemalas.”  Benarkah kita peduli kalau mereka jadi malas, ataukah kita yang sebenarnya terlalu berat untuk membuka dompet? “Apa untungnya memberi?” Memberi jelas bukan soal untung rugi. Memberi harus tulus dan jangan mengalkulasi beberapa banyak tuaian yang akan kita terima setelah kita memberi. Sudahkah kita menjadi anak Tuhan yang mempunyai gaya hidup memberi?

 

 

Orang dewasa suka memberi, anak-anak suka menerima. –Oswald Smith


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top