Blog / Pemerintahan Teror Rasul Allah: Mengenal Ayat-Ayat Kekerasan Dalam Quran

Quran memuat sejumlah besar ayat yang secara eksplisit menyerukan serangan-serangan kejam terhadap orang tidak beriman, agar kekuasaan Islam diperlebar. Fakta ada banyak orang Muslim modern yang memilih untuk secara konsisten tidak melakukannya tidak serta-merta membatalkan ayat-ayat Quran ini. Namun mereka yang memang memilih untuk melakukan seruan ayat-ayat ini menyatakan bahwa orang-orang Muslim yang dianggap moderat tidak setia kepada pengajaran Quran dengan lebih memilih damai dengan orang tidak beriman alih-alih menaati perintah Quran yang jelas tersebut.

Sebelum kita memerhatikan beberapa ayat kejam dalam Quran, penting diingat bahwa ayat-ayat tersebut terdapat dalam kitab yang dipandang kekal. Oleh karena itu, perintah-perintah tersebut tidak boleh diambil keluar dari konteks ayat-ayat tersebut diwahyukan. Seperti yang telah kita lihat, menentukan konteks yang pasti, dalam setiap peristiwa, hampir-hampir mustahil. Sekalipun jika kita menerima konteks yang diberikan oleh literatur “keadaan-keadaan di seputar Wahyu” (Asab al-Nuzul), dengan segera akan menjadi jelas bahwa sebagian besar ayat-ayat kekerasan di dalam Quran tidak “diwahyukan” dalam keadaan-keadaan dimana perintah untuk melakukan kekerasan dapat ditafsirkan sebagai seruan untuk melakukan tindak pertahanan atau pembelaan diri. Ayat-ayat seringkali berkaitan dengan apa yang dapat digambarkan sebagai penyerangan yang agresif dan ofensif semata. Lebih jauh lagi, perintah-perintah tersebut seringkali memiliki akhir yang terbuka (yaitu hanya terbatas pada musuh tertentu atau keadaan tertentu) dan oleh karena itu dapat ditafsirkan sebagai perintah penyerangan terhadap orang-orang tidak beriman.

Dengan mengingat akan hal ini marilah kita kini kembali pada seleksi kecil ayat-ayat kekerasan yang ditemukan dalam Quran. Sambil membacanya mohon diingat bahwa masih ada lebih banyak lagi ayat-ayat serupa yang tersebar dalam kitab tersebut:

 

  • “Bantai!” karena ketidakpercayaan/pemberontakan lebih buruk daripada pembantaian:

Ayat berikut diperkirakan diwahyukan tidak lama setelah Muhammad dan kelompok kecil pengikutnya hijrah ke Medinah. Pada tahap ini mereka sedang tidak diserang dan oleh karena itu ayat ini adalah perintah langsung untuk mengobarkan perang dengan memanggil orang Muslim untuk kembali ke Mekkah dan membunuh orang-orang yang tidak beriman: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Sura 2:191 dan 2:193).

  • Kata “fitnah” di atas (dari bahasa Arab “fitna”) dalam konteks Quran mengacu kepada ketidakpercayaan atau pemberontakan dan kekacauan yang mengikuti ketidakpercayaan. Jadi disini orang Muslim dipanggil untuk terus berperang dan membantai hingga fitnah itu selesai/habis dan orang kembali kepada Islam. Implikasi dari ayat-ayat ini sangat mengerikan. Ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa berada dalam keadaan “fitnah” (yaitu memberontak terhadap Allah) adalah dosa yang sangat buruk daripada membunuh orang-orang yang dalam keadaan tersebut.
  • Perangilah! Sekalipun kamu benci melakukannya: Menarik bila memerhatikan bahkan beberapa sahabat Muhammad kadangkala tidak nyaman dengan jumlah pembunuhan yang harus mereka lakukan. Ketika orang-orang Muslim ada yang enggan pergi untuk kembali menyerang dan mencuri dari non Muslim, ayat berikut ini diwahyukan: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Quran 2:216). Sekali lagi kita tidak melihat adanya suatu komunitas yang sedang diserang (maka pembelaan diri tidak dapat diklaim) sehingga Muhammad memerintahkan untuk berperang dan membunuh demi Allah.

Berperang bagi Allah adalah salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan seorang Muslim: Beberapa orang Muslim modern sangat suka menyatakan bahwa “jihad” terutama adalah perjuangan spiritual terhadap diri sendiri. Klaim ini akan didiskusikan secara terperinci di bawah ini. Untuk saat ini, kita ingat bahwa sentimen ini jelas berkontradiksi dengan Quran 4:95 dimana dengan jelas dinyatakan bahwa pejuangan fisik demi Allah adalah prioritas tertinggi. Jelas dari konteks tersebut apa yang diserukan sama sekali tidak bersifat spiritual oleh karena orang yang cacat, yang dapat terlibat dalam perjuangan spiritual dan bukan fisik, secara khusus dikecualikan (lihat juga diskusi mengenai teks ini dalam bagian 6.3): Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (Quran 4:95).

 

  • Berperang harus diasosiasikan dengan teror bahkan mutilasi:

Allah memperjelas dalam Quran bahwa teror adalah bagian utama dari strategi-Nya terhadap orang-orang tidak beriman danpara pengikut-Nyaharus menjadi instrumen teror tersebut: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka (Quran 8:12). Sedapat mungkin sejauh inilah “perjuangan spiritual” dilakukan. Mutilasi badan musuh (hidup atau mati) dianggap sebagai kejahatan perang yang sangat serius (berdasarkan Konvensi Jenewa IV, Protokol Tambahan 11). Namun, disini kita melihat Allah “Yang maha Pemurah” memerintahkannya sebagai bagian dari strategi menaruh teror/rasa takut ke dalam hati orang yang tidak beriman. Ayat ini juga menjelaskan kesukaan yang diperlihatkan para pejuang jihad modern terhadap pemenggalan sebagai sebuah metode eksekusi. Mereka tidak mendapatkannya dari antah berantah. Namun mereka berusaha untuk setaat mungkin pada perintah langsung dari Quran untuk “menebas leher” para musuh mereka.

  • Berperang untuk menundukkan orang-orang tidak beriman. Bab/Sura 9 adalah bab yang paling keji dalam Quran. Bab ini juga merupakan salah satu dari bab-bab terakhir yang “diwahyukan”. Signifikansi hal ini akan dijelaskan berikut. Pernyataan yang paling keji dalam bab ini berbunyi sebagai berikut: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang”  (Quran 9:5).  Disini orang Muslim diperintahkan untuk terlibat dalam penyerangan terhadap kaum pagan. Haruskah ini dimengerti dalam konteks pertahanan diri? ayat tersebut tidak menyatakan demikian. Orang-orang yang tidak beriman harus diperangi hingga mereka memeluk Islam! Perhatikan baik-baik pernyataan tersebut sampai akhirnya. Mereka harus diperangi hingga mereka “mendirikan sholat” dan “menunaikan zakat” . Ini nampaknya tidak berbahaya hingga anda memperhatikan kata bahasa Arab yang digunakan disini. Kata-kata tersebut adalah “salah”  (=sholat/sembahyang) dan “zakat” (derma). Kata-kata ini mengacu kepada “sembahyang islami” dan “derma islami” (bagian dari lima Pilar Islam). Oleh karena itu implikasinya adalah memeluk Islam disini dinyatakan sebagai tujuan dari aksi militer.

Bahkan perangilah “Para Ahli Kitab”. Para apologis Muslim modern sangat suka menunjuk pada suatu tautan spesial yang diduga eksis antara orang Muslim dengan “Para Ahli Kitab” (yaitu orang Yahudi dan orang Kristen). Namun jelas berdasarkan Quran, orang Muslim harus selalu menduduki tempat tertinggi dan orang Kristen serta orang Yahudi harus diperangi jika mereka tidak mau mengakui kekuasaan Muslim atas mereka. Demikianlah Quran mengekspresikan ide ini: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”  (Quran 9:29). Ayat ini memerintahkan serangan keji terhadap orang Yahudi dan orang Kristen hingga mereka menjadi Muslim atau ditundukkan dan merasa tertunduk.

Sekali lagi harus diingat bahwa ayat-ayat ini hanya segelintir dari jumlah total perkataan Quran mengenai topik kekerasan dalam nama Allah. Ayat-ayat ini hanyalah sebuah contoh representatif. Kita tidak dapat membaca ayat-ayat ini tanpa tiba pada konklusi bahwa perang yang tidak berkesudahan terhadap orang tidak beriman adalah kunci penting dari pengajaran Quran. Ini menimbulkan pertanyaan sehubungan dengan otoritas relatif dari ayat-ayat kekerasan. Apakah ayat-ayat ini hanyalah keingintahuan historis, ataukah memiliki bobot teologis dalam cara pengembangan Islam?

 

Bobot teologis apa yang dimiliki ayat-ayat kekerasan dalam Quran?

Beberapa pembaca mungkin akan berpikir bahwa ayat-ayat kekerasan tersebut hanyalah relik historis yang tidak memiliki peran apapun dalam perkembangan Islam. Tidak ada yang dapat menjauh dari kebenaran! Oleh para teolog Muslim ortodoks, aspek pengajaran Quran ini dipandang fundamental bagi pemahaman iman mereka. Berikut ini ada dua alasan utama untuk hal tersebut, yaitu: a) Ayat-ayat kekerasan semuanya adalah (ayat-ayat) “baru”, dan b) Prioritas kekerasan demi Allah dikonfirmasi dalam banyak hadith yang sahih.

Ayat-ayat kekerasan mengabrogasi ayat-ayat damai dan bukan sebaliknya. Referensi telah diberikan sehubungan dengan fakta bahwa ayat-ayat kekerasan dalam Quran secara umum diwahyukan setelah ayat-ayat damai. Alasan yang tepat untuk ini adalah Muhammad harus berbicara dalam bahasa damai saat ia masih merupakan pemimpin dari kelompok minoritas di Mekkah. Pergerakan kecilnya tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan militer terhadap orang-orang pagan Mekkah, oleh karena itu seruan damai dan toleransinya dapat dibaca pihak mayoritas yang berkuasa untuk hidup berdampingan dengan damai dengan kelompok minoritas Muslim yang lemah. Segera setelah Muhammad mendapatkan kontrol atas kekuatan militer ketika ia hijrah ke Medinah, maka retorikanya mulai berubah. Kini ayat-ayat kekerasan mulai muncul dengan cepat dan banyak saat Muhammad mulai meluncurkan pasukannya untuk menaklukkan dan berperang dalam nama Allah. Kronologi ini sangat signifikan sehubungan dengan apa yang disebut sebagai “hukum abrogasi”:

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?  (Quran 2:106).

Berdasarkan hukum ini, bila ada dua ayat yang saling berkontradiksi maka ayat yang baru akan membatalkan (mengabrogasi) ayat yang terdahulu. Secara umum dapat dinyatakan bahwa ayat-ayat “yang diwahyukan” di Medinah akan selalu mengabrogasi ayat-ayat “yang diwahyukan” di Mekkah jika ada konflik di antara keduanya. Semua ini berarti bahwa ayat-ayat kekerasan dapat memperoleh klaim otoritas skriptural yang lebih tinggi daripada ayat-ayat damai. Oleh karena itu mereka yang berargumen bagi penafsiran keras memiliki dasar teologis yang lebih kuat sebagai dasar argumen mereka. Pemikiran ini terasa mengerikan jika dipandang dari perspektif non Muslim, tetapi kita tidak boleh memasukkan kepala kita ke dalam pasir dan beranggapan seolah-olah Quran mengajarkan damai, hidup berdampingan dan kasih.

Pesan dari ayat-ayat kekerasan dikonfirmasi oleh beberapa hadith yang sahih. Hadith-hadith yang sahih, yang menjadi dasar bagi banyak praktik dan iman islami, memperjelas bahwa ayat-ayat dalam Quran yang menyerukan kekerasan sama sekali bukan keingintahuan historis. Banyak hadith individual yang mengkonfirmasi besarnya peranan kekerasan dalam penyebaran Islam yang menegaskan bahkan mengembangkan pesan dari ayat-ayat kekerasan dalam Quran. Berikut adalah beberapa contoh representatif:

 

Yang bukan sekutu adalah target yang sah: Beberapa apologis Muslim mengklaim bahwa ayat-ayat kekerasan dalam Quran telah diperhalus dengan fakta bahwa umumnya ayat-ayat tersebut dihadirkan dalam konteks penyerangan militer. Oleh karena itu, kekerasan, seperti yang diklaim, tidak dapat digambarkan sebagai tindakan mendiskriminasi. Ini secara langsung bertentangan dengan beberapa tradisi dimana Muhammad mengekspresikan tidak adanya simpati atas kematian musuh atau mereka yang bukan sekutu dengan menyatakan bahwa kaum wanita dan anak-anak harus dipandang sebagai bagian dari komunitas yang harus diperangi, sehingga mereka dapat dipandang sebagai target yang sah. Berikut adalah contohnya:

Nabi ditanya apakah diijinkan untuk menyerang para pejuang pagan di malam hari dan dengan demikian akan membahayak para wanita dana anak-anak mereka. Nabi menjawab: ‘Mereka (yaitu wanita dan anak-anak) adalah dari mereka (yaitu kaum pagan)’”  (Sahih Bukhari 52:256).

Hadith ini adalah kesukaan orang-orang yang melakukan kekejaman dalam nama Islam dimana para korban yang tidak bersalah dibunuh. Hadith ini membenarkan tindakan mereka dengan memperjelas bahwa tidak ada “yang tidak bersalah” ketika suatu komunitas menjadi target para pengikut Islam.

Komunitas Muslim akan tetap memerangi orang-orang tidak beriman hingga akhir dunia: Hadith berikut ini agak menentramkan dan dapat bertindak sebagai himbauan bagi mereka yang percaya bahwa perjanjian damai dimungkinkan dengan mereka yang menanggapi ayat-ayat kekerasan dalam Quran secara serius: “Ada tiga hal yang merupakan akar iman: menjauh dari (membunuh) mereka yang berkata ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dan tidak menyatakannya sebagai orang tidak beriman, dosa apapun yang dilakukannya, dan tidak mengasingkannya dari Islam oleh karena apapun perbuatannya; dan jihad akan terus dilaksanakan sejak hari Allah mengutus aku sebagai nabi hingga hari dimana anggota komunitasku yang terakhir akan memerangi Dajjal (anti Kristus)’” (Abu Dawud 14:2527).

Keselamatan dapat diperoleh melalui berperang bagi Allah: Dalam salah satu hadith yang sangat disukai para pejuang jihad modern, Muhammad menyatakan: ”Ketahuilah bahwa firdaus ada di bawah bayang-bayang pedang” (Sahih Bukhari 52:73).

Kekerasan bahkan dapat diberlakukan pada sesama Muslim yang kurang bertakwa dalam Islam: Dalam sebuah hadith Muhammad memerintahkan membakar hidup-hidup beberapa orang Muslim yang tidak bersegera pergi sembahyang: “[Muhammad berkata]: ‘Aku memutuskan memerintahkan seseorang untuk memimpin sembahyang dan kemudian mengambil api untuk membakar mereka semua yang tidak meninggalkan rumah mereka untuk pergi bersembahyang, membakar mereka hidup-hidup dalam rumah mereka’” (Bukhari 11:626). Tindakan biadab ini tentu mendapatkan perhatian dari komunitas Muslim dan sudah tentu semakin memperkuat pemerintahan teror Muhammad.

 


Add a Comment
| 1
bury your head
Reply| 20 May 2018 09:56:06
Gila ya, kitab setan ini. Pantes dunia kacau balau, ga heran orang Islam banyak yang jadi teroris. Kasian teman2 muslim kita, terjebak di dalam Islam, kalo mau keluar hukuman mati menanti.
Fetching more Comments...
↑ Back to Top