Blog / Muhammad dan Hasil Jarahan

 

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Quran 8:69)

Berdasarkan tradisi Islam, Islam berkembang sangat cepat dalam masa hidup Muhammad. Setidaknya sebagian dari ekspansi ini berdasarkan penaklukkan secara militer. Ini memunculkan pertanyaan besar: Bagaimanakah gerakan-gerakan militer yang mahal tersebut yang di dalamnya ia selalu terlibat didanai? Sebagian besar jawabannya dapat ditemukan dalam fakta bahwa Muhammad mengijinkan para pengikutnya untuk menjarah karavan-karavan para pedagang. Saat kekuatan militer orang Muslim bertumbuh, semakin jelas bahwa pengumpulan jarahan adalah sasaran yang penting. Bahkan ada Sura (bab) khusus dalam Quran (Sura 8) yang berjudul “jarahan”.

Berikut adalah beberapa jaminan Muhammad bagi para pengikutnya yang memperkaya diri mereka sendiri demi tujuan Muslim melalui pengumpulan jarahan sebagai sesuatu yang benar-benar dapat diterima:

·         Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. (Quran 48:20)

·         Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Quran 59:6)

·         Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Quran 8:69)

Beberapa apologis Muslim berusaha membenarkan hasutan-hasutan ini, hingga hanya menjadi semacam pencurian terbuka, dengan menyatakan bahwa ada kebutuhan strategis untuk merampok karavan-karavan orang Mekkah. Namun demikian anda harus bertanya, apakah orang ditodong dengan pedang untuk menyerahkan harta milik mereka akan memandang perampasan properti mereka tidak lain dari ekspresi ketamakan belaka. Pertanyaan lain yang juga harus diajukan: Apakah yang menjadi “kebutuhan strategis” di balik fakta sebanyak 20% dari jarahan ini langsung mengalir ke pangkuan Muhammad? Di dalam Quran, Allah berupaya keras untuk menjamin bahwa Muhammad mendapatkan keuntungan finansial pribadi yang cukup banyak dari semua perampokan dan pencurian yang ia perintahkan untuk dilakukan oleh para pengikutnya. Ini dilakukan dengan perintah bahwa seperlima dari rampasan perang dan perampokan harus dibayarkan kepadanya (Quran 8:41[1]). Setidaknya tentu ada keprihatinan serius di kalangan segelintir pengikut Muhammad sehingga keputusan ini secara signifikan dipisahkan dari tradisi para nabi terdahulu yang menjalankan hidup dalam kesederhanaan dan yang menolak kemewahan. Muhammad menyelesaikan masalah ini dengan meloloskan diri dari tradisi kenabian yang tidak pantas ini ke dalam mulut Allah (jadi klaim bahwa ia adalah kelanjutan dari para nabi yang terdahulu hanyalah omong kosong): “Rampasan telah dijadikan Halal (sah) bagiku walau tidak sah bagi siapapun sebelum aku” (Sahih Bukhari 1:7:331, pernyataan serupa juga dapat ditemukan dalam Sahih Muslim 1058[2]).

Jelas bahwa perampokan dan penjarahan properti orang lain telah ditetapkan sebagai sumber pemasukan yang sah bagi orang Muslim (selama Muhammad mendapatkan bagiannya). Banyak pengikutnya yang meresponi undangan terbuka ini untuk memperkaya diri mereka sendiri dengan sangat bersemangat dalam menggunakan kekerasan. Berikut ini hanya sebuah contoh: Nabi berkata lagi, “Barangsiapa telah membunuh seorang musuh dan memiliki buktinya, akan menguasai jarahannya”. Aku (kembali) berdiri dan berkata, “Siapakah yang akan menjadi saksi bagiku?” lalu duduk. Kemudian Nabi mengatakan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Kembali aku berdiri, dan Rasul Allah berkata, “Wahai Abu Qatada! Apakah kisahmu?” Kemudian aku menceritakan seluruh kisah kepadanya. Seseorang (bangkit berdiri dan) berkata: “Wahai Rasul Allah! Ia mengatakan yang sebenarnya, dan jarahan dari orang yang terbunuh itu ada padaku. Jadi, bayarkanlah dia demi aku”. Mendengar itu Abu Bakr As-Siddiq berkata, “Tidak, demi Allah, ia (yaitu Rasul Allah) tidak akan setuju memberimu jarahan yang dikumpulkan oleh singa-singa Allah yang berjuang demi Allah dan Rasul-Nya”. Nabi berkata, “Abu Bakr telah mengatakan kebenaran”. Maka, Rasul Allah memberikan jarahan itu kepadaku. Aku menjual perisai itu (yaitu jarahan) dan dengan uang hasil penjualannya aku membeli sebuah taman di Bani Salima, dan inilah propertiku yang pertama, yang aku dapatkan setelah aku memeluk Islam”  (Sahih Bukhari 4:53:370).

Implikasi dari aspek teladan dan pengajaran Muhammad ini sangat menyusahkan. Ini menginstruksikan siapapun yang percaya bahwa ia sedang berjuang “di jalan Allah” untuk memandang pencurian harta milik orang lain yang sedang ia perangi sebagai sesuatu yang sah. Untuk membenarkannya ia dapat menunjuk kepada teks Quran (sebuah kitab suci yang memiliki satu bab khusus mengenai jarahan!) dan teladan Muhammad. Ini juga membuka kemungkinan perang akan dikobarkan dengan “tujuan strategis” tidak lebih dari keinginan untuk merampas dan menjarah. Inikah “teladan sempurna” yang dapat membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik?



[1] Quran sura Al Anfal 8:41 “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[2] Sahih Muslim 1058


Add a Comment
| 2
Mimie
Reply| 22 Jul 2018 16:33:35
Quran sura Al Anfal 8:41 “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, .....
Nyata benar ayat ini dari iblis ,apakah koran masih bisa dipercaya,siapa allah yang butuh harta rampasan????
m MR.NUNUSAKU
Reply| 20 Jul 2018 16:35:10
setelah anda masuk islam anda diwajibkan berbohong penipu seseuai apa yang Muhammad lakukan
Fetching more Comments...
↑ Back to Top