Kekuasaan

 

Pada suatu ketika adalah seorang rabbi yang dihormati orang sebagai seorang yang dekat dengan Tuhan. Setiap hari sekelompok orang berdiri di depan pintu rumahnya untuk mencari nasihat, mengharapkan penyembuhan atau berkat dari orang suci itu. Dan Setiap kali rabbi berbicara, orang-orang itu akan mematuhi ucapannya dan menelan semua kata-katanya.

 

Namun di antara pendengarnya itu ada orang yang tidak baik yang selalu mencari kesempatan untuk menentang sang guru. Ia mencari kelemahan-kelemahan rabbi dan menertawakan kekurangan-kekurangan itu. Murid-murid rabbi tidak senang akan dia dan mulai menganggapnya sebagai jelmaan setan.

 

Pada suatu hari “setan” itu jatuh sakit dan mati. Semua orang merasa lega. Secara lahiriah mereka kelihatan berdukacita, akan tetapi dalam hati mereka senang karena kata-kata Guru yang begitu inspiratif tidak akan diganggu lagi dan tingkah lakunya yang mengandung kecaman tidak akan dikritik lagi oleh orang yang tidak sopan itu.

 

Orang-orang terkejut melihat sang Guru tenggelam dalam dukacita sejati yang mendalam pada saat penguburan. Kemudian ketika ditanya oleh seorang murid apakah ia berdukacita atas nasib kekal orang yang mati itu, ia berkata,”Tidak, tidak. Mengapa saya harus berdukacita atas teman kita yang sekarang ada di surga? Saya berdukacita untuk diri saya sendiri. Orang itu adalah satu-satunya kawan saya. Di sini saya dikelilingi oleh orang-orang yang menghormati saya. Ia adalah satu-satunya yang menantang saya. Saya takut sesudah kepergiannya, saya tidak akan berkembang lagi.” Dan ketika Guru itu mengucapkan kata-kata ini, ia menangis tersedu-sedu.

 

Oleh: Anthony De Mello


Add a Comment
No comments yet
↑ Back to Top